Forever
I lost one of my beloved aunt today (28.10.09). Forever, she will be in my heart.

Ragil Mega & Almh. Hj. Henriette Tjasmo, December 2007
Tadi malam aku sakit. Jadi aku tidur cepat. Tapi, malah tidur ayam. Jam 1 aku bangun.. lapar karena nggak makan malam. Makan selembar roti.. sambil twitteran dan bbm-an sama kakak. Malam itu diakhiri dengan segelas wedang jahe pukul 4 pagi dan aku kembali tidur.
Entah pukul berapa Zeeshan bangunin aku sehabis mandi. Dia bilang, “Ragil, your sister is looking for you, I think she wants to tell you something important”. Dengan kaget dan percaya kalau something bad has happened, aku bangun dengan bb beberapa senti di depan muka. Sedetik kemudian, aku nangis meraung-raung di tempat tidur.. Zeeshan di sebelah berkali-kali tanya, “what’s wrong”, but I completely ignored him. Lima menit kemudian, baru aku bilang, “My aunt passed away”.
Masih sambil berurai air mata, aku cek my own bb. Ada banyak bbm yang masuk.. dari kakak dan sepupuku juga saudara2 yang di group bbm, dan satu telfon masuk unknown number. Setelah selese baca semua pesan, aku bilang ke suami “I’ve gotta call my parents” sembari balas bbm, “Aku baru bangun. Mau telfon Mom”. Kata kakak, “Mom lagi sibuk kayaknya.” Aku tanya lagi, “Pap?” Kata Tante Ani, “Papamu lg sibuk sms. Aku baru dapet sms papamu.” Akhirnya aku memutuskan telefon Papie. Zeeshan langsung bergerak nyalain komputer karena aku telefon pakai Skype.
Aku telefon Papie, masih sambil nangis. Pap bilang, “doakan ya.. bacain Al-Fatihah. Pap masih di jalan mau ketemu orang. Mom ada di RS Tebet”. Setelah itu aku telefon Mom. Suara Mom tegar walau aku tahu beliau habis nangis, “Ragil maafin Bude Eti ya.. Doakan ya, bacain Yaasin.. Kita baru sampai rumah. Tadi meninggalnya jam 7:15 (atau 50 aku kurang jelas-R). Kemaren Eyang pengen nengokin tapi kan nggak bisa. Trus kata Bude juga nggak usah Bude udah mau pulang. Kemaren sempat pulang sebentar, tapi terus aanval lagi dan masuk ICU lagi. Ini sekarang kita lagi di kamar Eyang, Eyang baru dikasih tau pelan-pelan. Eyang baik-baik aja. Kamu doain ya”.
Zeeshan berangkat kerja. Aku linglung. Jalan ke sana kemari, padahal udah jelas punya tujuan mau sholat. Aku ambil buku doa-doa, ambil air wudhu lalu sholat Dhuha dan sholat Jenazah. Abis itu aku duduk di atas sajadah. Bengong. Tapi terus aku mulai chatting lagi sama kakak. Yang diomongin: FIRASAT.
Waktu dapat kabar Bude masuk ICU, aku deg-degan. Agak hopeless.. kayaknya tau beliau mau pergi. Tapi aku nggak boleh ngeduluin yang di Atas. So I ignored that feeling. Satu hari, antingku jatuh sebelah.. aku bingung.. gumam sendiri, “aduh mau ada apa ya? semoga nggak ada apa-apa ya”. I ignored that feeling. Satu malam, aku mimpi buruk.. aku mimpi salah satu kakiku beraaaat rasanya. Sampe mau nyebrang jalan aja susah, mesti nyeret satu kaki itu. Sampe malu ditungguin mobil-mobil. Bangun tidur aku mikir, “koq mimpi gitu ya? Mau ada apa ya?” But I ignored that feeling. Setelah beliau pergi baru jelas firasatku, kaki Bude bermasalah sehingga beliau selalu sholat sambil duduk.
Hari ini seharian aku duduk di depan komputer. Kirim e-mail pemberitahuan ke keluarga suami.. tulis-tulis di facebook.. cari-cari foto aku dengan Almarhumah yang terus aku pajang di facebook. Semua dilakukan dengan unstoppable tears, ditemani lagu Andai Ku Tahu – Ungu, alunan piano dari kartu yang dikirimkan mertuaku, dan Watermark – Enya. Aku nggak kebayang nanti kalau ke Jakarta lagi.. ke rumah Eyang, nggak ada Bude Eti..
Bulan lalu aku ke Jakarta untuk ngerayain Idul Fitri. Sempat agak susah pulang karena gusi ada yang bengkak. Tapi akhirnya aku berangkat juga. Karena aku nggak mau menyesal di kemudian hari kalau ada yang ‘pergi’. And I’m glad I went home.. Aku ada di sana saat Bude Eti merayakan Idul Fitri untuk terakhir kalinya.
Aku masih nggak bisa percaya. Mungkin karena aku jauh.. Zeeshan pun sempat geleng-geleng, dia bilang “I can’t believe it though, she looks so young”.
Terakhir aku bertemu beliau, awal bulan ini.. dua hari sebelum aku berangkat kembali ke Edmonton.. 2 Oktober, Batik Day. Mungkin hari itu arwah Bude sebenarnya udah pergi. Tapi ahhh.. siapa sangka. Hari itu, Bude memuji-muji batik aku. Beliau juga bilang aku tambah cantik
Sehari sebelum aku berangkat, aku berencana ke rumah Eyang lagi. Tapi gagal karena masih ada urusan. Jadi aku cuma bicara di telfon.. sama Eyang.. dan Bude Eti. Aku minta maaf karena nggak jadi ke sana. Kata Bude, “Nggak apa-apa. Kamu kan sibuk. Salam buat Zeeshan yaaa..”
Iya Bude, salam Bude aku sampaikan. Selamat Jalan, Bude.. Sampaikan salamku untuk Eyang Kakung dan Oom Badi. Aku sayang Bude.. dan doaku akan selalu menyertai Bude. Selamanya..













